Rabu, 24 Juli 2019

PERISTIWA GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965/PKI

A. Latar Belakang Peristiwa G30S/PKI
Gerakan 30 september 1965/PKI atau G30S/PKI adalah peristiwa pengkhiantan terhadap bangsa Indonesia terbesar yang pernah terjadi. Peristiwa ini terjadi pada malam hari tepat saat pergantian dari tanggal 30 september (kamis) menjadi 1 oktober (jumat) 1965 Saat tengah malam.
Kaum komunis di dunia mempunyai tujuan yang sama, yaitu merebut kekuasaan dan menciptakan diktator proletariat. Demikian juga dengan Partai Komunis Indonesia. Gerakan ini bertujuan untuki menggulingkan Soeksarno dan mengubah Indonesia menjadi komunis. Gerakan ini di prakarsai oleh Dip Nusantara Aidit yang mrupakan ketua dari PKI saat itu. DN Aidit melancarkan hasutan hasutan kepada rakyat Indonesia untuk mendukung PKI menjadikan Indonesia sebagai “Negara yang lebih maju”.
Ajaran NASAKOM diusahakan PKI untuk diterapkan secara struktural dengan mengikut sertakan setiap badan dan kegiatan pemerintah, termasuk ABRI.
A. Kronologis Peristiwa G 30 S / PKI
Sasaran Utama aksi PKI selanjutnya adalah melenyapkan pucuk pucuk pimpinan Angkatan Darat . Mereka adalah kelompok militer yang ternyata tidak berhasil dininma oleh Biro khusus PKI. Pimpinan Biro Khusus PKI, Syam Kamatuzaman, mengadakan rapat untuk mempersiapkan pelaksanaan gerakan yang direncanakan pada 30 september, yang agendanya direncanakan sebagai berikut.
-Menculik para Jenderal pimpinan TNI-AD untuk melumpuhkan kekuatan ABRI.
-Mnduduki gedung ABRI
-Mmeperkuat basis pertahanan PKI di Lubang Buaya yang terletak didekat markas    besar TNI-AU.
-Membentuk dewan Revolusi yang akan menggantikan pemerintahan sipil.
-Mendemisionerkan Kabinet Dwikora dan membentuk pemerintahan berdasarkan NASAKOM
Gerakan militer itu di pimpin oleh Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa, Letkol Untung Samsuri, dan melibatkan empat kompi pengawal kepresidenan. Meskipun  gerakan iotu mereka namakan Gerakan 30 september, dalam kenyataannya mereka mulai bergerak pada dini hari, 1 oktober 1965. Gerakan 30 september didahului dengan penculikan enam orang perira tinggi dan seorang perwira pertama Angkatan Darat, yaitu sebagai berikut.
1. Letnan Jenderal Achmad Yani (Menteri/panglima Angkatan Darat)
2. Mayor Jenderal R. Soeprapto (Deputi II Panglima Angkatan Darat)
3. Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Panglima Angkatan Darat)
4. Mayor Jenderal Suwando Parman (Asisten I Panglima Angkatan Darat)
5. Brigadir Jenderal Donald Izacus Pandjaitan (Asisten IV Panglima Angkatan Darat)
6. Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman/Oditur)
7. Letnan I pierre Andreas Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution)


Ketujuh perwira tersebut di bawa ke Lubang Buaya yang pada saat itu dijadikan pusat gerakan PKI. Tiga orang perwira, Yaitu Jenderal Achmad Yani, Mayor Jenderal M. T Haryono, dan brigadir Jenderal D.I Panjaitan telah ditembak mati oleh para penculik sebelum dibawa ke sana.
Di Jawa Tengah, G30S/PKI berhasil merebut kekuasaan di Markas Kodam VII/Diponegoro di Semarang dan Markas Kodam 072 di Yoyakarta. Pada 1 oktober 1965, PKI juga mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi di Yogyakarta yang diketuai Mayor Mulyono melalui RRI Stasiun Yogyakarta.
B. Dampak Peristiwa G30S/PKI
a. Munculnya aksi demonstrasi secara besar besaran yang dilakukan rakyat beserta mahasiswa yang tergabung dalam KAMI, KAPPI, KAPI menuntut pembubran terhadap PKI beserta. Tuntutan mereka dikenal dengan istilah Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat yaitu
1) Pembubaran PKI.
2) Pemebersihan Kabinet dwikora dan unsur unsur PKI.
3) Penurunan harga  harga barang.
b. Pemerintah mengadakan reshuffle (pembaharuan) terhadap Kabinet Dwikora menjadi kabinet Dwikora yang disempurnakan dengan ditunjuknya cabinet yang anggotanya seratus menteri sehingga dikenal dengan kabinet seratus menteri.
c. Pada tanggal 11 maret 1966, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah  Sebelas Maret atau yang dikenal dengan Supersemar.
C. Penyelesaian Peristiwa G30S/PKI
Atas kejadian ini, rakyat menuntut presiden Soekarno untuk dengan segera membubarkan PKI. Soekarno akhirnya membubarkan PKI, kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk membersihkan ujnsur pemerintahan dari pengaruh PKI. Perintah itupun dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret 1966 yang sesuai dengan pernyataan Soekarno berisi mengenai pengamanan diri pribadi Presiden, pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan ajaran presiden dan pengamanan wibawa presiden. Selain itu, G30S/PKI yang berada di Jawa Tengah pun berhasil ditumpaskan, gembong gembong Pki SEPERTI Kolonel Sahirman, Kolonel Maryono, Letkol Usma, Mayor Samadi, Mayor R.W. Sakirno, dan kapten Sukarno berhasil dilumpuhkan. Operasi penumapasan ini juga berhasil menangkap DN. Aidit pada 22 November 1965.





Sumber:
Buku Sejarah SMA Kelas XII Program IPS